Belajar Tidak Berdaya (Ketika Pilihan Tak Lagi Ada)

PR UJIANTI
Belajar Tidak Berdaya (Ketika Pilihan Tak Lagi Ada)
Setelah tulisan Ketika Kami Patah Hati dipublikasikan, saya mendapat banyak respon dan komentar dari para guru yang ikut membaca. Secara umum mereka mengatakan bahwa kondisi dan perasaan mereka terwakili oleh tulisan tersebut. Bahkan ada seorang guru yang menulis bahwa apa yang saya tuliskan di artikel tersebut baru sepersekian dari hal-hal yang harus para guru hadapi setiap hari. Nampaknya, ada persetujuan untuk kesimpulan; berani berdarah-darah dan patah hati berkali-kali adalah bagian dari profesi yang mesti diterima dan dijalani.
Namun, yang justru mengusik benak saya adalah soal bagaimana para guru ini bertahan setiap hari melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya Benar, setiap pekerjaan dan profesi memiliki tanggung jawab dan tantangannya sendiri-sendiri. Tetapi saya anggap, profesi guru menjadi istimewa karena harus berhadapan dengan manusia (baca: anak didik) setiap hari. Berbeda dengan profesi lain yang sama-sama bergelut di sektor pelayanan publik atau jasa lainnya seperti perbankan misalnya, meski sama-sama berhadapan dengan manusia, tugas inti mereka tidak sekedar memberikan pelayanan, namun terlibat langsung membantu, memfasilitasi, mengarahkan, mengelola, bahkan membentuk manusia-manusia ini menjadi insan yang utuh, berkembang sesuai potensi yang dimiliki masing-masing, dengan tanpa mengesampingkan keluhuran budi dan rasa empati terhadap sesama. Kalau diibaratkan seniman, mereka ini pemahat, yang harus tahu betul jenis kayu dan teknik pahat yang sesuai dengan jenis kayu, serta bentuk pahatan yang ingin dihasilkan. Hal-hal tersebutlah yang membuat profesi guru berbeda dengan profesi lainnya, meski sama-sama berhubungan dengan manusia.
Lalu ketika mereka harus memahat secara massal dengan teknik pahat yang telah ditentukan, dan dengan hasil pahatan yang juga mesti seragam, apa yang terjadi? Ketika memahat yang adalah sebuah kegiatan olah rasa, berganti dengan sekedar merampungkan pesanan, apa yang akan terjadi? Apa yang terjadi pada para Bapak dan Ibu Guru yang semestinya berangkat ke sekolah dengan tujuan memahat jiwa-jiwa namun berubah menjadi memahat angka-angka bombastis di atas kertas ulangan, ujian dan lembar kerja siswa? Apakah mereka tiba setiap pagi di sekolah masih dengan semangat yang sama, ataukah sekedar datang untuk menggugurkan kewajiban? Apakah yang mereka tunjukkan adalah daya juang (resiliensi) ataukah sebentuk kepasrahan terhadap sistem, terhadap situasi?
Saya menemui dan berbicara dengan para guru, melakukan wawancara, mengamati mereka di kelas, dan menyebar kuisioner. Saya juga bertanya kepada para guru tentang interaksi mereka dengan siswa, dan bagaimana mereka memandang anak didik mereka tersebut.
Seorang responden saya, bapak guru muda dengan gelar pendidikan strata dua yang mengajar di sebuah sekolah dasar negeri, mengeluhkan rombel di sekolahnya yang terlampau besar (lebih dari empat puluh dua siswa). Kelas yang padat, membuatnya tak dapat melakukan pendampingan dan proses bimbingan kepada setiap siswa secara maksimal, padahal kemampuan para siswa tidak sama sementara beban tugas-tugas pelajaran yang harus dikejar dan diselesaikan besarnya sama. Maka dengan sukarela ia datang kembali sore harinya, membuka kelas dan mempersilahkan para siswa yang merasa butuh untuk mendapatkan bimbingan ekstra dari pak guru untuk datang. Gratis, dan tanpa paksaan. Dan kelasnya hampir selalu penuh! Dengan suka cita, mengenakan kaos, dan sandal jepit, siswa-siswanya berlatih soal-soal yang siangnya belum ‘terkejar’ untuk diselesaikan. Belajar memahami konsep yang siang harinya baru separuh dipahami. Ia juga mengaktifkan beberapa komputer yang teronggok berdebu di kantor untuk digunakan oleh para siswa membuat animasi sederhana atau sekedar mengetik karangan pendek, atau bahkan mengunduh soal-soal latihan olimpiade untuk dikerjakan bersama Pak Guru. Usia Pak Guru ini baru dua puluh delapan tahun, dan sudah empat tahun ini saya mengikuti perjalanan kariernya. Ada masa dimana ia terlihat sangat kurus dan letih, masa-masa dimana saya mengkhawatirkan semangatnya akan patah karena apapun yang ia upayakan nampaknya tak pernah cukup.
Responden saya lainnya adalah ibu guru yang telah mengajar di sebuah TK selama dua belas tahun. Gaji terakhirnya lima ratus ribu rupiah. Selama kurun waktu tujuh tahun ia mengajar hanya dengan gaji tiga ratus ribu rupiah. Tahun 2015 ia dinyatakan lulus sertifikasi guru dan berhak menerima tunjangan profesi, namun baru dua kali menerima tunjangan, ada aturan baru tentang UKG (Uji Kompetensi Guru). Ibu guru ini diharuskan mengikuti UKG untuk tetap mempertahankan sertifikasinya. Ia gagal dalam beberapa bagian dan harus mengikuti ujian ulang. Selama belum lulus UKG, tunjangan sertifikasinya ditunda penerimaannya (dipending, istilah beliau).
Saya bertanya bagaimana ia bertahan dengan gaji sejumlah itu. Saat ini posisinya adalah juga sebagai kepala sekolah, otomatis ada beban lain seperti administratif dan manajemen, selain beban mengajar. Ia menjawab begini,
Yah, namanya sudah panggilan hati, panggilan jiwa. Saya sudah kadung di sini(mengajar). Saya paling tidak bisa libur. Seumur karier mengajar saya ini, saya cuma ijin tidak masuk ketika harus operasi pas melahirkan. Kalau saya cuti lebih dari dua minggu rasanya gelisah sekali, kepikiran terus dengan sekolah. Di tahun-tahun awal, setiap berangkat sekolah rasanya berat sekali, anak-anak juga masih kecil-kecil. Keluarga besar mendesak terus supaya saya berhenti bekerja. Kadang saya nangis diam-diam di sepanjang perjalanan menuju sekolah, tapi kalau sudah tiba di lampu merah (dekat sekolah), saya hapus air mata dan menguatkan diri. Pokoknya tidak boleh ada yang tahu kalau saya habis menangis.
Saya meleleh. Dan saya yakin cerita semacam ini bukan eksklusif milik Ibu dan Bapak Guru yang sempat saya temui, namun juga ribuan guru lain di pelosok nusantara. Mereka bertahan karena panggilan hati dan karena percaya, suatu saat nanti akan ada perbaikan kondisi. Seperti Ibu Guru yang setelah dua belas tahun mengajar akhirnya lolos sertifikasi (meskipun sekarang mesti bersabar tak menerima tunjangan profesinya entah sampai kapan, tergantung hasil UKG-nya) atau seperti Bapak Guru yang lintang pukang mencari cara berdamai dengan sistem.
Lalu, saya berpikir, apa yang akan terjadi ketika para guru ini, setelah bersusah payah dan mencoba berbagai cara, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa apapun upaya yang beliau-beliau lakukan akan berakhir sia-sia? Apa yang akan terjadi ketika para guru percaya bahwa meskipun hari dan tahun berganti, tetap tak ada satu pun upaya yang dapat mengubah situasi? Bukankah hal ini justru mendorong mereka untuk menjadi pasif? Buat apa susah-susah berusaha ketika tak ada yang berubah?
Seligman (2006), peneliti di bidang psikologi positif mengatakan, sumber perilaku pasif ada dua; pertama, ketika orang lain memberikan respon positif terhadap perilaku pasif yang kita tunjukkan- maka, kita akan cenderung mengulanginya-, dan kedua, ketika kita tahu bahwa apapun yang kita lakukan, seberapa keraspun kita berusaha, tidak akan mengubah situasi. Apakah ini akan menimpa Bapak Guru responden saya tadi dan Bapak Ibu Guru lainnya?
Lebih lanjut, adilkah jika kita membuat mereka berada dalam posisi tak berdaya tersebut terus menerus? Adilkah ketika kita menyerahkan kepada mereka untuk terus mencari cara agar dapat bertahan dari gempuran tuntutan sistem, kebijakan, pemerintah, orang tua dan masyarakat? Tidak berhakkah mereka mendapatkan otonomi dan kemerdekaan di dalam kelas mereka sendiri?
Atau justru sebaliknya, menjadi pasif sebenarnya adalah pilihan yang realistis?
Ketika apapun yang dilakukan oleh mereka tidak menghasilkan apa-apa, namun mereka juga tidak dapat keluar dari situasi tersebut, ketika segala sesuatunya berada di luar kendali mereka, salahkah jika mereka datang hanya sekedar menggugurkan kewajiban?
Mengutip apa yang disampaikan Bapak Guru Muda kepada saya,
Percuma mengadu ataupun mengeluh karena tidak banyak yang mau mendengarkan kami. Akhirnya kami (saya)hanya mengikuti filosofi klasik mencoba seperti ikan tawar di air laut, yang berusaha untuk tidak asin, bermodalkan semangat ngayah (mengabdi). Setidaknya itu membuat saya semangat lagi.
Sampai kapan kita membiarkan Bapak dan Ibu Guru berdarah-darah dan patah hati?
Rujukan:
Seligman, M.E.P. (2006). Learned Optimism. New York: Vintage Books
PUBLISHED BY
Single Mom’s Diary