KETIKA KAMI PATAH HATI(Renungan)

KETIKA KAMI PATAH HATI

NOVEMBER 27, 2016 | SINGLE MOM’S DIARY

Educating the mind without educating the heart is no education at all

(Aristotle)

Guru itu medan perjuangannya ada di dalam kelas, yang kadang begitu suram, dengan tembok yang sudah kusam catnya dan bangku-bangku tua yang sebentar lagi ambruk jika keliru cara menggesernya. Guru itu rumahnya di dalam bilik hati para siswa, yang kadang susah sekali untuk dimasuki karena berkali-kali diketuk pun tak juga dibukakan pintu. Meski demikian, seorang guru, tak bisa menjadi guru hanya di ruang kelas atau sebatas tembok pagar sekolah. Ia tetap menjadi guru ketika berbelanja ke pasar, periksa ke dokter, antri di bank, beribadah di tempat ibadah, bahkan tetap menjadi guru ketika memasuki toilet umum di sebuah terminal atau pusat perbelanjaan.

Seorang guru tak dapat mengatakan bahwa profesinya adalah guru, sebab sesungguhnya ia adalah guru luar dalam, lahir batin, menyeluruh, kapanpun, di manapun. Seorang guru mau tak mau harus menerima ketika ia dianggap tahu segala hal, utamanya soal moral. Tak dapat menolak ketika berduyun-duyun orang bertanya, mencari jawaban atau setidaknya sedikit percikan kebajikan. Tak peduli ketika sang guru itu sendiri sesungguhnya sedang lelah hati.

Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.

Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke ‘menghajar’ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.

Sebagai guru, kami tidak memiliki keistimewaan untuk memilih siapa-siapa yang akan duduk di kelas kami. Sistem yang menyaringnya, kami hanya tinggal menerima saja. Beruntung jika kami mendapat siswa yang antusiasme belajarnya luar biasa, namun ketika mendapat yang sebaliknya, kami juga tak punya pilihan, selain ikhlas. Guru dituntut untuk mendengarkan, memahami dan membantu jiwa-jiwa yang berada di kelasnya untuk tumbuh sempurna, bukan hanya intelektualnya, namun juga rohaninya. Sementara di lain pihak, ada tuntutan ketuntasan belajar dengan materi ajar yang berlimpah ruah sampai kami sendiri gelagapan. Semakin jarang kami punya waktu untuk mendengarkan, karena kami dikejar-kejar bahan ajar yang harus tuntas hari itu, sebab jika tidak, besok berarti kerja ganda. Jangankan mendengarkan, kami bahkan jarang ‘mengada’ di dalam kelas. Kami bukan lagi suara-suara teduh, bukan lagi tatapan penuh kasih atau gelegar semangat yang membangkitkan rasa ingin tahu. Kami, seringkali hanya serupa bayang-bayang di balik soal-soal Matematika, Kimia, dan Fisika, dan segudang hafalan.

Sungguh, kami tak dapat menyalahkan ketika di kelas, betapa seringnya kami jumpai mereka yang apatis, dengan aspirasi belajar yang rendah. Susahnya setengah mati meminta mereka aktif dalam pembelajaran. Bagaimana bisa aktif ketika para siswa tak pernah diberi kesempatan belajar untuk berpikir, bertanya, dan menganalisa? Terlalu banyak yang harus ‘dituangkan’ dalam wadah-wadah yang sudah separuh penuh, yang sebentar lagi meluap, membanjir tanpa arah dan tujuan. Kami sedih, sangat sedih. Tapi jika wadah-wadah ini tidak penuh, lalu mereka gagal di ujian nasional, kami juga nanti yang paling berdosa. Kami akan menjadi tertuduh pembunuh masa depan mereka.

Sungguh, kadang patah hati kami tak terperi.

Mereka yang di ataslah yang menentukan berbagai kebijakan, sementara kami tak pernah punya suara untuk ikut sekedar sumbang saran. Padahal kami-kami ini yang setiap hari bergulat melaksanakan kebijakan dari pusat. Sekali-sekali bertanyalah, wahai Bapak dan Ibu Pejabat, akan kami beri segudang jawaban berdasarkan fakta kami di lapangan. Tolonglah, dengarkan suara kami.

Ijinkanlah kami dan anak-anak kami menjadi manusia kembali. Biarkan kami berinteraksi layaknya guru dan murid, orang tua dan anak, bukan sekedar pemasok informasi dan wadah-wadah yang mesti diisi. Beri kami ruang untuk duduk dan mendengarkan cerita mereka yang datang ke kelas kami setiap pagi dengan ransel beban yang tak sedikit, entah karena kemiskinan atau karena orang tua yang tak pernah ada. Beri kami waktu untuk menggelorakan semangat mereka agar memiliki mimpi dan visi masa depan. Beri kami kesempatan untuk mengasah empati dan welas asih anak-anak kami terhadap mereka yang tak seberuntung dirinya. Beri kami kesempatan untuk menjadi toleran pada setiap perbedaan, agar anak-anak kami dapat menghargai keragaman. Mereka tak perlu seragam mendapatkan nilai sepuluh di pelajaran Matematika, agar kelak mereka tak merisak sesama yang tak seberuntung atau secemerlang dirinya.

Lihatlah hati yang berdarah ini, betapa di dalamnya terkubur cinta tak berbatas yang tak sempat disampaikan karena lembar kerja siswa yang harus segera diperiksa dan latihan soal yang mesti segera dibahas. Tengoklah kedalaman jiwa kami, yang saat ini sedemikian merananya karena kami tak lagi dapat menjadi sahabat-sahabat anak didik kami sendiri. Pun ketika kami tak memiliki kesempatan untuk bercerita tentang kehidupan di luar sana, anak-anak kami mencibir diam-diam di belakang, karena yang kami sampaikan hanya mengulang-ulang buku teks pelajaran tanpa ada relevansi dengan apa yang mereka jumpai di balik dinding kelas dan tembok sekolah. Kami ditertawakan karena media sosial jauh lebih menarik daripada cerita kami di dalam kelas.

Kami hanya berharap untuk dapat berhenti patah hati. Biarkan jiwa kami damai, agar kami dapat membawa kedamaian di dalam kelas. Biarkan kami merasakan cinta agar dapat kami tumpahkan cinta pada anak-anak kami. Biarkan kami menjadi berharga, agar kami dapat menghargai anak-anak kami sebagai jiwa-jiwa indah yang mandiri dan mampu berpikir untuk diri sendiri. Ijinkan kami menjadikan ruang kelas kami sebagai tempat aman bagi anak-anak kami untuk utuh bertumbuh, dan tidak hanya berfokus pada ketakutan besok atau tahun depan mungkin tidak lulus ujian. Tolong, tolong biarkan kami menyemai bibit-bibit yang hadir dalam kelas kami di atas tanah berpupuk cinta, bersiramkan rasa aman, bermandikan sinar pemahaman yang membuat mereka berlomba untuk tumbuh menjadi pribadi-pribadi bernilai yang mampu berbuat tidak hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati.

Kami ada di kelas-kelas karena panggilan jiwa dari batin yang terdalam.

Dan jika pun kami harus patah hati sekali lagi, percayalah, tetap tak akan mengurangi dedikasi kami.

Ketika Kami Patah Hati