Tetap kerdil, setelah 71 Tahun (Literasi)

download (1)
Tetap kerdil, setelah 71 Tahun

Sejauh ini urusan peningkatan minat baca masyarakat hanya bersandar pada niat baik para altruis di sejumlah tempat.© Elena Schweitzer /Shutterstock

Salah satu misteri besar, yang mungkin akan bertahan selamanya sebagai misteri, adalah kenapa minat baca masyarakat kita tidak bisa tumbuh.

Saya tahu bahwa kita tidak boleh menyimpan prasangka buruk, tidak boleh berpikir negatif, tidak boleh menyimpan kegelapan di dalam pikiran, tetapi saya khawatir bahwa perkara ini akan tetap tak terpecahkan hingga akhir zaman.

Saya sedih terhadap nasib minat baca ini. Saya bayangkan ia seperti makhluk yang dikutuk tetap kerdil oleh dewa-dewa di dalam mitologi, atau seperti binatang yang invalid sejak menetas dari cangkang telur atau sejak dilahirkan oleh induknya.

Jika memelihara kuda Sumba dan ia hanya bisa tumbuh sebesar anjing pudel, Anda bisa membuat dugaan bahwa ia mungkin penyakitan sehingga tidak mampu menumbuhkan diri secara normal.

Atau, dalam kalimat yang terdengar lebih saleh, Anda bisa mengatakan ia memang ditakdirkan tidak tumbuh. Apa boleh buat, itu rahasia illahi dan kita hanya bisa berdoa.

Saya tidak berharap bahwa tetap kerdilnya minat baca masyarakat kita adalah rahasia illahi, melainkan karena ia tidak ditangani secara baik. Setidaknya, pernyataan itu datang dari pikiran yang lebih optimistis.

Jadi, karena bukan dikehendaki begitu oleh Yang Mahakuasa, keadaannya masih bisa dibenahi, ditingkatkan, diupayakan dengan cara-cara maksimum agar ia bisa tumbuh sebagai makhluk normal.

Pertanyaannya, oleh siapa? Saya pikir oleh negara, tentu saja.

Menjadikan diri sendiri gemar atau tidak gemar membaca buku memang merupakan urusan pribadi tiap-tiap individu, tetapi menjadikan masyarakat gemar membaca adalah urusan negara. Saya berharap setiap pemimpin di negara ini, pada semua tingkatan, memiliki perasaan cemas terhadap masyarakatnya yang tidak gemar membaca.

Negara ini dibangun dengan janji konstitusional yang luhur, di antaranya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan negara memiliki seluruh kelengkapan yang dibutuhkan untuk memenuhi janji.

Dalam administrasi pemerintahan, urusan ini ada di tangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang sudah berganti-ganti menteri dan sampai hari ini tidak pernah mampu mewujudkan masyarakat gemar membaca.

Keluhan tentang rendahnya minat baca sudah saya dengar sejak saya anak-anak, dan sekarang saya sudah pintar memproduksi anak-anak, dan nasib minat baca masih sama saja.

Usia kemerdekaan sudah 71 tahun, warga negaranya tetap tidak gemar membaca, dan pemerintahnya seperti tidak peduli apakah warganya akan gemar membaca atau tidak, akan menjadi cerdas atau tidak.

Kita tidak melihat upaya sungguh-sungguh ke arah sana sebagaimana yang dulu dilakukan, misalnya, dengan kampanye Keluarga Berencana. Pemerintah sekarang bisa memodel, jika mau, keberhasilan kampanye itu untuk membuat masyarakat menyadari pentingnya membaca buku.

Mungkin presiden yang harus memulainya, sebab kepala pemerintahan adalah presiden. Saya akan senang jika satu kali saja dalam hidup bisa mendengar Presiden Jokowi mengucapkan:

“Saya ingin melihat, ketika masa jabatan saya berakhir nanti, semua warga negara ini menjadi orang-orang yang gemar membaca buku dan bergairah untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuan.”

Itu hanya aspirasi pribadi, oleh seorang warga negara, kepada presiden yang memperoleh jabatan karena rakyat memilihnya. Saya pikir jika Presiden mengucapkan keinginan seperti itu, Pak Menteri yang menangani urusan tersebut akan langsung sibuk mencari tahu bagaimana cara menumbuhkan kecintaan orang-orang terhadap buku.

Selanjutnya, sekolah-sekolah akan dikerahkan untuk menopang keberhasilan program ini. Perpustakaan dikelola sebaik-baiknya dan dipenuhi dengan buku-buku yang seharusnya ada. Mungkin tiap semester para guru akan menyarankan buku apa saja yang perlu dibaca oleh murid-murid.

Beberapa waktu kemudian kita akan melihat murid-murid sekolah menjadi gemar membicarakan buku-buku, dan itu bagus. Mereka akan mampu mengungkapkan diri dan merumuskan
pemikiran dalam cara yang lebih akurat, sebab mereka memiliki kosakata yang kaya berkat kegemaran membaca buku.

Jika memiliki kosakata yang kaya, Anda bisa menyampaikan kalimat yang terdengar lebih cerdas ketimbang orang yang kosakatanya itu-itu saja.

Murid-murid sekolah yang tidak suka membaca buku biasanya lebih suka membicarakan orang, membicarakan ponsel, membicarakan marmut dan selebriti, surga dan neraka, atau apa saja. Mereka akan membicarakan semua hal kecuali buku. Lalu bertengkar apakah bumi bulat atau datar. Lalu sibuk menyuarakan kebencian terhadap satu sama lain.

Jika yang tumbuh baik di negara ini adalah ketidakcerdasan dan suara-suara kebencian, yang terus diulang-ulang dan berisik dari waktu ke waktu, kita bisa mengatakan negara salah dalam menangani warganya.

Bagaimana pun, suara kebencian yang disampaikan berulang-ulang adalah gejala sangat menyedihkan yang terjadi di dalam kehidupan bersama.

Melakukan sesuatu berulang-ulang, Anda tahu, adalah cara terbaik untuk mendapatkan kecakapan. Para juara, dalam bidang apa pun, adalah orang-orang yang melakukan sesuatu berulang-ulang. Mereka memiliki rasa penasaran bagaimana cara melakukannya secara lebih baik lagi.

Mereka juga berlatih setiap hari dengan sikap seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa mereka kerjakan kecuali mendapatkan kecakapan untuk hal yang mereka tekuni.

Kita akan menjadi juara juga dalam membenci jika kita tekun menyuarakan kebencian dan terus melakukannya berulang-ulang, setiap hari.

Saya yakin pemerintahan negara ini mempunyai dana untuk mengkampanyekan gemar membaca, sebagaimana pemerintahan yang lalu punya dana untuk menyadarkan orang agar beranak paling banter dua saja, jangan banyak-banyak.

Yang belum dipunyai oleh pemerintah kita mungkin adalah kemauan untuk membuat warga negara menjadi lebih cerdas.

Sejauh ini urusan peningkatan minat baca masyarakat hanya bersandar pada niat baik para altruis di sejumlah tempat, yang berupaya sekuat stamina dan sebisa yang mereka lakukan, untuk membuat masyarakat di sekitar tempat mereka tinggal mencintai buku.

Kita berterima kasih kepada mereka, tetapi secara pribadi, sebagai warga negara, saya tetap menuntut negara benar-benar memenuhi janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sudah waktunya pemerintah melakukan kampanye gemar membaca seberhasil kampanye Keluarga Berencana pada masa lalu, demi mengakhiri misteri besar tentang kenapa minat baca masyarakat kita tidak bisa tumbuh.

AS Laksana, sastrawan yang aktif menulis di berbagai media
From
https://beritagar.id/artikel/telatah/tetap-kerdil-setelah-71-tahun